Postingan

Wong Fei Hung

Gambar
W ong Fei Hung lahir pada tahun 1847 di desa Xiqiao, Funshan, China. Ia dikenal sebagai sosok yang mahir dalam ilmu pengobatan dan beladiri.  Ayahnya, Wong Kay-Ying yang juga seorang tabib memiliki sebuah klinik pengobatan bernama "Po Chi Lam" di Canton (ibukota Guandong), serta menguasai wushu tingkat tinggi yang membuatnya terkenal sebagai salah seorang dari Sepuluh Macan Kwantung. Wong Kay Ying suka menolong orang lemah walaupun dia sendiri kesusahan. Sifat inilah yang diturunkannya pada anaknya, Wong Fei Hung. Menurut Bey Logan dalam bukunya yang berjudul, Hongkong Action Cinema, "semua pria ini (Sepuluh Macan Kwantung) adalah kelompok pahlawan yang hidup dengan kitab undang-undang kehormatan." Kai Ying mempelajari kungfu Hung Kuen atau Hung Gar dari guru Luk Ah-choy. Kungfu Hung Kuen, juga mempelajari pengobatan Tiongkok dan seni bela diri yang sering dianggap sebagai keturunan langsung dari kungfu Shaolin tradisional. Dalam kungfu Tiongkok, garis silsilah seni...

Butterfly

Gambar
Di sebuah kota kecil yang tenang dan indah, tinggallah Steve dan Rhea, sepasang kekasih yang saling mencintai. Mereka selalu bersama memandang matahari terbit di puncak gunung, bersama di pesisir pantai menghantar matahari senja. Setiap orang yang bertemu dengan mereka pasti akan memandang dengan kagum. Betapa tidak, mereka berdua saling mengasihi satu sama lain. Suatu hari Steve mengalami kecelakaan dan terluka sangat parah. Selama beberapa hari ia terbaring di rumah sakit tak sadarkan diri, sementara Rhea dengan setia menungguinya sambil berlinang air mata.  Demi kesembuhan kekasihnya, setiap malam Rhea pergi ke gereja untuk berdoa untuk kekasihnya. Seminggu telah berlalu, tapi Steve masih belum sadarkan diri. Rhea pun mulai mengalami kelelahan. Tubuhnya lemah dan wajahnya nampak pucat, tapi ia tetap bertahan. Keteguhan hatinya akhirnya membuahkan hasil. Tuhan mengindahkan semua doa-doanya yang tulus setiap malam di gereja itu. Tuhan bertanya kepadanya “Apakah kamu benar bersedia men...

Mouse Trap

Gambar
Suatu hari seekor tikus mengintip lewat sebuah celah ditembok untuk mengamati sang petani dan istrinya yang sedang membuka sebuah bungkusan. Ada makanan apa kiranya? Ia terkejut sekali, ternyata itu jebakan tikus. Lari kembali ke ladang pertanian itu, tikus itu meneriakkan peringatan: “Awas! Ada jebakan tikus di dalam rumah. Awas! ada jebakan tikus di dalam rumah!” Sang ayam tenang-tenang berkokok dan sambil tetap menggaruk tanah, mengangkat kepalanya dan berkata, “Ya, ya.. maafkan aku, pak Tikus, aku tahu ini memang urusan gawat bagi anda, tapi kan buat aku pribadi tak ada pengaruhnya. Jangan bikin aku pusinglah.” Tikus berbalik dan pergi menuju sang babi, katanya, “Ada jebakan tikus di dalam rumah, sebuah perangkap tikus dirumah!” “Wah, aku menyesal dengar kabar ini,” si babi menghibur dengan penuh simpati, “tetapi tak ada sesuatupun yang bisa kulakukan kecuali berdoa. Yakinlah, kamu ada dalam doa-doaku!” Tikus kemudian berbelok menuju si sapi. Sapi inipun berujar sinis, “Seperti apa...

Beautiful Life

Pelajaran Kehidupan Kisah yang menarik dimana tetap mempertahankan prinsip menjadi orang baik dan harapan. David kuliah di fakultas perdagangan Arlington USA. Kehidupan kampusnya, terutama mengandalkan kiriman dana bulanan secukupnya dari orangtuanya. Entah bagaimana, sudah dua bulan ini rumah tidak mengirimi uang ke David lagi. Di kantong David hanya tersisa satu keping dollar saja. David dengan perut keroncongan berjalan ke bilik telepon umum, memasukkan seluruh dananya, yaitu satu keping uang logam itu, ke dalam telepon. "Halo, apa kabar?" telpon telah tersambung, ibu David yang berada ribuan km jauhnya berbicara. David dengan nada agak terisak berkata: "Mama, saya tidak punya uang lagi, sekarang lagi bingung karena kelaparan." Ibu David berkata: "Anakku tersayang, mama tahu." "Sudah tahu, kenapa masih tidak mengirim uang?" David baru saja hendak melontarkan dengan penuh kekesalan pertanyaan tersebut kepada sang ibu, mendadak merasakan perkata...

Kisah Penjual Minyak Tanah

Adalah Mang Engkos, penjual minyak tanah langganan kami yang tinggal di desa sebelah, dan telah hampir 12 tahun berdagang. Untuk berjalan keluar dari desanya, menuju desa kami, Mang Engkos harus berjalan kaki sepanjang puluhan kilometer melalui sungai dan lembah. Dan di rumah kamilah, jarak terjauh Mang Engkos mengantarkan minyak tanahnya. Sehingga biasanya di halaman rumah kami (setelah dia menuangkan minyak tanah ke botol-botol bekas kecap), dia mengaso sejenak, dengan segelas air putih yang kami suguhkan, untuk kemudian dia bergegas pulang. Sebelum pulang biasanya dia mengganti bajunya yang kuyup karena derasnya keringat. Kadang jika saya sedang di halaman, Mang Engkos bercerita bagaimana dia membiayai pendidikan 4 anaknya yang semuanya bersekolah dengan berjualan minyak tanah ini.. Setiap dua hari sekali Mang Engkos selalu membawa dua drum minyak tanah yang dipanggulnya untuk memenuhi kebutuhan desa kami. Uang yang didapatnya tak lebih dari 70 – 80 ribu rupiah. Ketika desa kami ma...

Six Times

I Cried For My Brother Six Times   Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan diriku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.  "Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya.  Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!"  Dia mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi.  Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang melakukannya! "  Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya ...

Pelajaran Hidup

Kisah Seorang Nenek dan Seliter Minyak Goreng Suatu ketika saya bertemu dengan seorang nenek. Dia, yang yang ringkih dengan kebaya bermotif kembang itu, tampak sedang memegang sebuah kantong plastik. Hitam warnanya, dan tampak lusuh. Saya duduk di sebelahnya, di atas sebuah metromini yang menuju ke stasiun KA. Dia sangat tua, tubuhnya membungkuk, dan kersik di matanya tampak jelas. Matanya selalu berair, keriputnya, mirip dengan aliran sungai, berkelok-kelok. Hmm...dia tampak tersenyum pada saya. Sayapun balas tersenyum. Dia bertanya, mau kemana. Saya pun menjawab mau kuliah, sambil bertanya, apa isi plastik yang dipegangnya. "Minyak goreng," jawabnya. Ah, rupanya, dia baru saja mendapat jatah pembagian sembako. Pantas, dia tampak letih. Mungkin sudah seharian dia mengantri untuk mendapatkan minyak itu. Tanpa ditanya, dia kemudian bercerita, bahwa minyak itu, akan dipakai untuk mengoreng tepung buat cucunya. Di saat sore, itulah yang bisa dia berikan buat cucunya. Dia berkata...